Monday, May 16, 2011

Sang Murobbi = Sang Pendidik

Pendidik atau guru dalam bahasa Indonesia lebih tepat disandingkan dengan kata murabbi karena kata ini memiliki arti yang mendalam. Kata murabbi berasal dari bahasa Arab, kata itu merupakan bentuk ism al-faail (menunjuk pada seseorang) dari ربي yang berarti seorang pendidik, kalau dilihat dari ilm isytiqaq al-kalimah (ilmu asal kata), kata itu berasal dari ربي - يربو yang berarti berkembang, tumbuh, menjadi kompleks. Kata ربي – يربو ini lalu ditransitifkan menjadi ربي – يربي – تربية yang berarti mengembangkan, menumbuhkan dan membuat sesuatu relatif lebih kompleks. Dalam hal ini seorang pendidik berkewajiban untuk mengembangkan sesuatu yang seharusnya berkembang atau tumbuh dari seorang murid, baik itu aspek pengetahuan (majal al-'ilm), moralitas (majal al-khuluq) dan keterampilan (majal al-tathbiiq).

Sempena hari ini sebagai hari guru di Malaysia, saya ingin mencoret-coret blog ini dengan kenangan indah bersama para pendidik ku di masa kecil hingga sekarang dan hingga akhir hayat ku nanti. Ouh ya, aku lebih suka menggunakan kata-kata "pendidik" daripada "guru". Memang semenjak kecil kita di ajari dengan menggunakan kata2 "guru" dan kita tahu bahwa profesi guru merupakan pekerjaan yang mulia. Karena dia kita tau, karena dia kita selamat, karena dia kita bahagia.

Ibu dan Ayah adalah pendidik yang pertama kali ku kenal. Ibu ku yang mengajari bagaimana cara berjalan, bicara dan bahkan mengajari mana yang baik dan mana yang buruk. Manakala ayah ku mendidik ku bagaimana tanggungjawab seorang lelaki dengan cara mengisi kekosongan waktu ku dulu, sehingga tak sempat untuk bermain sudah di suruh ke ladang. Memang capek, malas, tapi semua itu pasti akan ada hikmah nya.

Huruf A - Z tidak ku kenal jika tidak sekolah di SD Negeri, Desa Simonis. Ibu Nurbaik selaku kepala sekolah ku itu memang galak. Tapi banyak ilmu pengetahuan yang bersifat pengantar untuk meneruskan sekolah ku ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

Dengan bertambah nya umur ku, tak terasa setelah 6 tahun di Sekolah Dasar itu, ayah ku langsung mendaftarkan ku ke Pesantren Modern Dar Al-Uluum Asahan, Kisaran. Di pondok ini, kami selalu menyebutnya penjara suci. Sebab seluas Ponpes (pondok pesantren) itu di kasi pagar untuk menghindari para santri keluar tanpa izin.

Subahallah,, aku mulai menemukan jati diri ku sebagai seorang yang berpotensi menurut ku sendiri selama di pondok ini. Selain belajar secara formal di dalam kelas, aku juga berusaha untuk mengikuti beberapa ketrampilan, seperti latihan nasyid, qori (taranum) dan juga program tahfiz.

Dengan seperti itu, Alhamdulillah, selama di ponpes aku sering keluar beserta teman-teman pilihan dan guru pembimbing untuk program PKL (Praktek Kerja Lapangan) dan sekaligus promosi pesantren ke kampung-kampung dan tempat-tempat di daerah Asahan, dan labuhan batu.

Begitu juga kepada Almrhm Buya Pulungan yang mendidik ku untuk menghafal al-Qur'an. Dengan keikhlasan beliau, aku dapat berjalan-jalan di bumi Allah dan menopang hidup hingga saat ini. Dan yang terutama adalah aku dapat mengajarkannya kepada orang lain sesuai kemampuan yang ku miliki dengan izin-Nya.

Lagi-lagi tak terasa, ternyata 6 tahun juga diri ku berlayar di pondok suci itu. Banyak kenangan yang tak terlupakan. Karena kedewasaan ku lahir disana, sehingga kesan pahit dan indah itu sangat melekat di hati ku.

Kematangan ku berfikir mulai muncul sewaktu aku mulai menginjakkan kaki ku di perantauan ini, yaitu di tanah melayu, Malaysia. Akan tetapi tujuan utama ku adalah untuk belajar. Karena aku yakin, kedewasaan seseorang itu akan terarah jika di didik oleh seorang pendidik yang professional (Dosen). Sehingga aku memilih untuk kuliah.

Begitu lah perjalanan hidup ku bersama-sama dengan para pendidik. Aku hanya bisa berdoa kepada mereka semua agar diberikan keikhlasan dalam mendidik ku sehingga apa yang mereka ajarkan menjadi satu hal yang sangat bermanfaat bagi ku dan bagi orang lain nantinya.

Tak terlupakan ialah Qudwah Hasanah, Suri Tauladan Guru terbaik dan Pendidik yang paling berkesan adalah Nabiyyuna Rasulullah SAW.

Satu hal yang menarik bagi ku ketika para pendidik ku selalu mengatakan "setiap manusia mempunyai potensi untuk lebih baik. Setiap manusia mempunyai kelebihan masing-masing. Maka bangun lah. Karena tiada yang dapat membangun kan mu kecuali dengan diri mu sendiri".

No comments:

Post a Comment